Tampilkan postingan dengan label jilbab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jilbab. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Desember 2010

I'm Muslimah and Very Happy


Bagaimana tidak bahagia, kalau dengan kemuslimahan ini kami masih tetap bisa melakukan banyak hal tanpa perlu melanggar aturanNya. Bagaimana tidak bahagia, kalau dengan kemuslimahan ini kami menjadi lebih baik dari hari ke hari dalam ketaatan karenaNya. Dan bagaimana kami tidak bahagia, karena semakin kami bangga dengan kemuslimahan ini, maka semakin Allah menyayangi kami.

Tahukah engkau apa artinya jika Allah telah sayang pada seseorang? Mari kita dengar firmanNya dalam sebuah hadits qudsi :

Berkata Abu Hurairah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda :

Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia Ta’ala memanggil Jibril AS seraya berfirman :

"Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan maka cintailah dia.”

Beliau SAW kemudian bersabda :

Maka Jibril AS pun mencintainya. Kemudian Jibril memanggil terhadap penghuni langit : ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia.’ Maka seluruh penghuni langit mencintainya. Kemudian di bumi ia diterima.

Apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia Ta’ala memanggil Jibril AS seraya berfirman :

"Sesungguhnya Aku membenci si Fulan, maka bencilah ia"

Lalu ia dibenci oleh Jibril AS. Kemudian Jibril AS memanggil penghuni langit : ‘Sesungguhnya Allah membenci Fulan, maka bencilah kamu sekalian terhadapnya.'

Kemudian Beliau SAW bersabda : Kemudian ia di bumi dibenci oleh orang-orang.

[HQ. 3.5 Ditakhrijkan oleh Al-Bukhari, Muslim] [MZ74-79]

Lalu, apa lagi yang kurang dalam hidup ini jika Allah SWT, para malaikat, penghuni langit, dan penghuni bumi sedemikian istimewa menempatkan kita? Yakinlah, kita tak kan pernah merasa sendiri meski sedang seorang diri.

Akan selalu ada kebaikan dalam kebaikan tercipta, karena memang demikianlah keberkahan hidup terengkuh. Dan pastinya berbeda sekali dengan kedudukan orang kedua dalam hadits tersebut, dimana pasti menjadi pilihan berikutnya jika tak memilih pilihan sebelumnya, yaitu menjadi seseorang yang dicintai Allah SWT.

Jika jelas demikian, lalu alasan apa yang masih membuat sebagian dari kita enggan hidup dengan kemuslimahan ini?

Apa? Jadi muslimah itu ribet?

Apakah yang kau anggap ribet itu mengenakan kain penutup kepala yang lebar hingga menjuntai ke dada? Sementara itu adalah penjagaan terbaik dari Allah yang disebut hijab. Yang maknanya lebih dari sekedar kain penutup kepala. Yang dengannya engkau tak hanya aman, namun juga mengamankan mata dari yang bukan haknya.

Apakah yang kau sebut ribet itu harus memakai pakaian panjang longgar dan tidak transparan? Sementara justru itulah letak harga diri fisikmu. Pun demikian, kau juga aman dan mengamankan syahwat para lelaki tak kuat iman. Itulah yang disebut langkah preventif dari pintu perzinahan, terlebih (na’udzubillahi min dzalik) pemerkosaan.

Kalaupun toh memang ribet, hanya seribet itu kan? Ribet yang tak'kan membuat hidupmu sengsara. Sedikit kepanasan bukan masalah besar, toh akan menjadi sangat biasa jika kau mengenakannya tiap hari.

Ah, jika kita bicara ribet, bukankah shalat lima waktu itu lebih ribet dari pada yang “sembahyang” sepekan sekali? Jangan-jangan kau mengatakan shalat lima waktu juga ribet? Ups, maaf… bukan bermaksud su’udzan, hanya selintas pikiran yang tiba-tiba muncul sebagai bahan perbandingan.

***

Apa? Jadi muslimah itu sulit?

Hei, jangan membuatku tertawa. Bukannya justru sangat simple dan sangat nyaman dengan apa yang ada. Tidak perlu punya se-tas make-up tuk memoles wajah agar tetap terlihat cantik menarik, toh wanita bukanlah benda pajangan yang harus menarik perhatian. Kita sedang tidak jualan diri kawan! Tapi kita sedang hidup dengan akal, hati, dan jasad kita sebagai manusia yang bemartabat.

Muslimah tidak perlu update fashion hanya agar tidak dibilang kampungan dan ketinggalan jaman. Karena pakaian takwa ini adalah model yang tidak pernah lekang dimakan jaman. Akan tetap seperti ini dari dulu dan sampai kapanpun. Kenapa bisa demikian? Karena acuan syarat pakaian takwa ini sudah dipatenkan langsung dari yang menciptakan jaman, yang tentu saja lebih tahu tentang perkembangan jaman. Acuan syarat yang jauh lebih valid dan sempurna, karena juga diperhatikan efek samping untuk diri sendiri maupun untuk orang di sekitar.

Jadi, apanya yang sulit? Oh, apakah tidak bersentuhannya dengan lawan jenis yang bukan mahram, meskipun hanya berjabat tangan itu yang disebut sulit? Ketahuilah, bahwa justru itulah bagian dari istimewanya muslimah. Tak disentuh selain pada yang sudah berhak. Dengan garis jelas antara haram dan halal.

Dan siapa bilang sulit? Hanya perlu sedikit bersiasat agar tetap aman dan nyaman. Misalnya engkau hanya perlu menelangkupkan kedua tangan di depan dada, sedikit tersenyum sambil berucap, “Maaf, saya sudah wudhu.” kalau ketemu lawan dan suasana yang tidak kondusif untuk menjelaskan bahwa memang selain mahram dilarang bersentuhan. Karena tidak bisa dipungkiri masih banyak yang “belum bisa menerima” bahkan ada yang belum mengerti tentang hukum yang satu ini, dimana pernah dikisahkan bahwa Nabi SAW lebih memilih ditusuk dengan besi panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.

Dan ini sedang tidak berbohong, karena kalimat bentuk lampaunya tidak menjelaskan kapan waktu wudhunya, “sudah wudhu” bisa berdurasi sejam yang lalu, sehari yang lalu, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, atau kalau perlu setahun yang lalu. Jadi, kalau masih juga bilang sulit, itu tandanya sih kurang kreatif saja kali ya?

***

Apa? Jadi muslimah itu kudu pinter ngaji? Banyak tahu tentang hukum agama? Tidak boleh tertawa cekakan? Tidak boleh teriak-teriak? Tidak boleh jutek? Tidak boleh bla, bla, bla…

Ayolah kawan, jangan lagi cari alasan, karena semakin banyak alasan semakin menunjukkan kualitas diri, pun semakin menunjukkan kesalahan. Semuanya ada awal mulanya, semua ada proses dan alurnya. Engkau hanya perlu satu kata kunci sukses menjadi muslimah, yaitu taat. Bahasa Al-Qur’an-nya sih sami’na wa atha’na. Karena demikianlah sikap dan sifat para sahabat/sahabiyah dahulu ketika menerima ketentuan syari’at dari untaian tutur sang Nabi SAW.

Taatlah niscaya akan bahagia. Bukan bahagia yang semu, bukan bahagia yang dibayangi kekhawatiran takut kehilangan kebahagiaan itu sendiri. Tapi ini bahagia yang menghujam ke dasar kalbu. Bahagia yang membahagiakan. Karena hanya ada kata sabar dan syukur di dalamnya, yang bermula dari rasa yang sama; percaya akan kebaikan-kebaikan di setiap takdirNya. Tak ada umpatan, keluhan, apalagi penyesalan tentang kehidupan.

Jadi jika demikian tentang kebahagian itu, maka kamilah yang paling lantang berkata, “I’m muslimah and very happy.”

Sumber Era Muslim.... Readmore »»

Islam dan Affirmative Action Terhadap Perempuan



Berbicara tentang wanita berarti berbicara tentang bagaimana peradaban dunia ke depan. Wanita menjadi simbol baik atau tidaknya sebuah peradaban.

Ketika Islam datang, ayat yang mewajibkan setiap muslimah untuk berhijablah yang pertama kali turun. Bukan sembarang ayat. Perintah ini diterjemahkan sebagai bentuk penghormatan Islam terhadap kaum perempuan.

Perempuan dinilai berharga dan harus dilindungi agar menjadi cermin yang memantulkan cahaya Islam yang murni. Inilah yang namanya affirmative action yang tidak sekadar berlandaskan emosi menuju kesetaraan, namun berasal dari kecintaan Nya pada perempuan.

Berkaca pada sahabiyah yang pada saat turun perintah wajib berjilbab bersegera untuk melaksanakannya, sungguh hal yang kontra dengan keadaan perempuan Indonesia saat ini. Perempuan dinilai hanya sekadar pemuas nafsu belaka, barang yang hanya untuk dinikmati tanpa dihargai dan masih banyak yang berpikir bahwa sosok perempuan tidak lebih dari sekedar barang yang bisa dibeli.

Sungguh realita yang mencengangkan mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk perempuan yang lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Kedudukan perempuan masih belum sebagai subjek yang harus dipenuhui hak-haknya, tetapi hanya sebgai objek dari peraturan yang dijadikan kambing hitam bahwa Negara ini sudah menempatkan hak-hak yang semestinya bagi seorang perempuan.

Jangan berharap pada sebuah Negara yang tidak konkret menyelesaikan sebuah permasalahan. Hanya menjalankan kewajiban tanpa melihat esensi dari dikeluarkannya sebuah peraturan. Maka, Islam tampil sebagai solusi. Islam bukan Negara, bukan sebuah wilayah dan bukan pula adat sitiadat yang mengekang manusia untuk mentaatinya.


Islam adalah sebuah nilai yang syamil mukamil. Menyeluruh dan hadir di setiap relung kehidupan sebagai penebar benih kebermanfaaatan untuk seluruh alam. Maka, Islam menjadi solusi dari permasalahan perempuan yang belum terakomodir kepentingannya. Lihatlah bagaimana Islam menempatkan posisi perempuan setara dengan laki-laki menuju jalan ketaqwaan:

Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dileibihmkan Allah kepada sebagian kamu aats sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonkanlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya . sungguh, Allah Maha Mengetahui sebagala sesuatu. (QS.An-Nisa’:32)

Dari ayat tersebut dapat dijelaskan bahwa Islam memandang laki-laki dan perempuan sama dalam mengusahakan kebaikan untuk dirinya. Setiap pengorbanan laki-laki akan dihargai sesuai dengan apa yang dikorbankanya itu, begitu pula perempuan. Pada akhirnya, perempuan juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan balasan yang lebih baik.

Islam memberikan kesempatan yang sama untuk perempuan agar menuntut ilmu, sebagaimana Aisyah adalah seorang ahli hadist yang dijadikan rujukan bagi para sahabat. Keistimewaan lain adalah melahirkan merupakan jihad bagi seorang perempuan, melahirkan dan menjadi seorang ibu merupakan hal yang bisa mengantarkan seorang perempuan mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari perempuan yang tidak menjalankan perannya dengan setulus hati.

Peran menjadi seorang istri dan ibu merupakan bentuk perlindungan agar perempuan terjaga hak-hak kewanitaannya. Dianjurkannya perempuan untuk lebih memilih sholat di rumah dibandingkan di mesjid adalah bentuk perlindungan lain agar perempuan tidak terkontaminasi dengan nilai-nilai yang merusak kehormatan mereka.

Nah, manakah sisi dari Islam yang tidak melindungi perempuan? Islam jauh lebih menerapkan affirmative action terhadap perempuan sebelum para feminis menggaungkannya.

Perempuan Indonesia harus memahami hakekat keberadaan mereka dan bagaimana menjalankan Islam dengan sebaiknya karena Islamlah satu-satunya yang mengerti perempuan.

Dengan pemahaman tersebut, tidak akan terdengar kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, pemasungan hak-hak ketenagakerjaan, perlakuan tidak adil dari masyarakat dan bentuk diskriminasi lain.

Sebagaimana laki-laki ditempatkan memiliki kelebihan terhadap suatu hal, maka perempuan dalam Islam dipandang mempunyai nilai lebih dalam menjadi parameter sebuah peradaban. Tak hanya di negara yang berideologikan Pancasila ini, tetapi juga di dunia.

Wallahu’alam bishshowwab

Sumber Era Muslim
Ryan Muthiara Wasti
Fakultas Hukum 2008 Readmore »»